ISO 9001 menyebalkan?

ISO 9001 menyebalkan?

Buat sebagian besar Bos perusahaan mendengar kata ISO 9001 bisa jadi bikin gatal telinga. Mungkin anda termasuk di dalamnya (mungkin) 🙂 .

Yang terbayang oleh Sang Pak Bos adalah ISO 9001 itu rumit dan malah bikin kerja jadi kaku, trus ditambah lagi bawahan jadi sering konflik satu sama lain akibat saling mempertahankan prosedur. Namun begitu Pak Bos juga sadar bahwa punya sertifikat ISO 9001 itu sekarang sudah menjadi tuntutan standard Konsumen.

Akhirnya mau tak mau Pak Bos panggil konsultan untuk membantu mendapatkan sertifikat ISO 9001. Konsultan datang, wawancara sedikit, minta data perusahaan, lalu buat kontrak yang di dalamnya ada target kapan bisa dapat sertifikat ISO 9001, lalu Pak Bos bayar.

Kemudian konsultan menyiapkan dokumen ISO 9001 (istilah umumnya) lalu mengatur kapan program awarenessnya, kapan sosialisasi prosedurnyanya, kapan internal audit, dan kapan mengadakan rapat tinjauan manajemen. Setelah itu selesai lalu panggil Auditor Lembaga Sertifikasi untuk mengaudit perusahaan Pak Bos, setelah itu tinggal tunggu datang sertifikat. Dapat deh sertifikatnya.

Selanjutnya perusahaan Pak Bos berjalan lagi dengan cara sama seperti biasa sebelumnya punya sertifikat, bedanya hanya kartu nama Pak Bos, kertas surat, kop surat dan papan nama perusahaan sudah bisa diembel-embeli ISO 9001.

Setelah mendekati jadwal kunjungan auditor di tahun berikutnya Pak Bos menyadari bahwa sistem ISO 9001 tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bolong sana bolong sini, nggak pede untuk menghadapi auditor lembaga sertifikasi, maka akhirnya Pak Bos sibuk panggil lagi sang konsultan untuk memastikan kelancaran audit agar sertifikat bisa dipertahankan.

Begitu terus berulang-ulang, sudah punya sertifikat ISO tapi tak terasa manfaatnya di operasional perusahaan, sertifikat hanya bermanfaat sebagai lampiran persyaratan tender.

Menyebalkan? Iya.

Benarkah demikian cara yang tepat dalam mengadopsi sistem manajemen mutu ISO 9001? Dengan sangat menyesal saya sampaikan bahwa Pak Bos salah dalam mengadopsi sistem manajemen mutu ISO 9001.

Seharusnya dengan mengadopsi sistem manajemen mutu ISO 9001 membuat perusahaan Pak Bos:

  1. Memiliki manajemen internal yang lebih baik
  2. Memiliki proses yang lebih efektif (pemborosan berkurang)
  3. Mengalami peningkatan efisiensi, produktifitas dan keuntungan
  4. Mampu mempertahankan kesetiaan konsumen
  5. Mampu menghasilkan produk yang konsisten terjaga kualitasnya
  6. Diakui kompeten dalam menerapkan ISO 9001.

Jadi, bagaimana selanjutnya?  Apa bisa team Pak Bos mengadopsi ISO 9001 agar mencapai 6 poin di atas? Jawabannya adalah BISA. Dengan senang hati kami akan membantu anda mewujudkannya.

Ridof Saputra
PDCA Consult

https://www.iso.org/iso-9001-quality-management.html

The Top Five Things that Can Go Wrong with ISO 9001:2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *